Jumat, 05 Juni 2020

Di Antara Daun Gugur


ku ingin berjalan bersamamu

Dia berjalan melewati gerbang sekolah, seorang diri. Saat teman lain masih sibuk perpisahan dengan orang tua mereka, dia berjalan sendiri merunduk menatap lantai. Melangkah menuju ruang kelas dan tersenyum kecut kala teman-temannya menyapa. Adakah hal lebih buruk dari melihatnya tak tersenyum seperti itu? Tidak ada. Lantas aku, hanya bisa melihatnya. Tak berani melakukan apapun untuknya.
Harusnya kugenggam erat tangannya pagi ini, mengantarnya ke sekolah. Berjalan bersama menikmati sejuknya embun yang disinari matahari pagi. Atau bahkan menikmati mendung dan gerimis pagi hari yang dingin. Melihatnya tersenyum saat akan berpisah denganku dan bergabung dengan teman-temannya saat masuk kelas. Sungguh kuingin berjalan bersamamu menatap hari setiap pagi.

dalam hujan dalam gelap

Maghrib, hujan turun dengan lebatnya. Lorong gang sepi, hanya ada suara bayi menangis dari salah satu rumah dan terdengar makin keras setelah petir menggelegar. Tak lama kemudian mereda suara tangisnya, entah dengan kekuatan magis apa dari sang ibu sehingga bisa menenangkan si bayi. Hujan makin lebat setelah aku lelah melangkah menyusuri lorong gang yang tak ada ujungnya. Langit mulai gelap saat pertengkaran itu terjadi. Pertengkaran yang membuatku memutuskan meninggalkan semuanya. Langit mendung seperti matanya yang menahan air mata agar tidak jatuh. Ia terdiam saat aku bertanya tentang anak itu. Sekian tahun aku bertanya-tanya, anak siapakah yang selama ini tinggal bersamaku? Apakah benar perempuan mungil itu anakku? Sedangkan dokter mengatakan bahwa aku tidak mungkin memiliki keturunan.

tapi ku tak melihat matamu

Pagi yang entah sudah berapa kalinya aku berada di sini. Berdiri mematung memandang gerbang sekolah dan sekitarnya. Menunggu perempuan mungil itu datang dengan wajah sendu. Menunggu hingga gerbang sekolah ditutup, ia tak datang juga. Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, dan aku masih berdiri menunggunya. Tiga puluh menit sudah berlau sejak bel berbunyi, dan matahari sudah beranjak naik. Sambil berjalan sendiri dihujani sinar matahari, ia datang tergopoh-gopoh berlari kecil menuju gerbang. Dan secepat itu ia menghilang setelah pintu kecil gerbang sekolah dibuka sang penjaga. Bahkan untuk melihat sinar di matanya aku tak sempat. Matahari terlalu kejam pagi ini, karena sinarnya mengalahkan sinar mata anak itu. 

aku ingin berdua denganmu

Pagi sekali, bahkan terhitung subuh, saat ponselku berdering tanda panggilan masuk. Tersenyum aku setelah menutup perbincangan dengan mantan istriku. Ia memberiku kesempatan untuk bertemu gadis mungil yang kutinggalkan bertahun-tahun lamanya. Pagi ini pukul sembilan, ia berjanji mempertemukan kami di salah satu taman pinggir kota. Tak sabar dengan waktu itu, aku segera bergegas mempersiapkan segalanya. Gadis itu, duduk bersebelahan dengan ibunya. Mungil sekali untuk anak seusianya dan jadi tampak lucu. Setelah memandanginya setiap pagi, akhirnya aku bisa menyapa dan tersenyum padanya. Ibunya memberi kesempatan untukku bercengkerama berdua dengannya. Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihatnya tersenyum saat kuberikan hadiah. Ia tak banyak bicara, hanya tersenyum dan sesekali mengangguk. Tak ada yang ingin kulakukan selain memeluk gadis ini saat ia bertanya, “Apakah kamu ayahku?”

di antara daun gugur

Ia pergi. Benar-benar pergi. Meninggalkan anak itu sendiri. Tak akan pernah kembali seperti harapan anaknya. Hanya butuh waktu hingga daun-daun jatuh berguguran untuk kepergiannya. Tak ada tangis darinya saat ia pergi meninggalkan semua, sedangkan semua menangis saat melepas kepergiannya. Ia benar, ditinggalkan lebih menyakitkan dari apapun. Itulah yang ia rasakan saat aku meninggalkannya. Dan sekarang, kau membalasnya lebih kejam. Gadis itu, terpaku pilu di antara daun gugur. Memandang lurus dengan tatapan kosong. Berjalan sendirian menyusuri lorong gang-gang sempit, entah kemana ia akan pergi. Tiba-tiba langkahnya terhenti, ia berjongkok dengan bahu bergetar. Sengaja ia berhenti di saat lorong gang sepi, hingga ia bisa menangis sendiri tanpa ada yang bertanya “kenapa?”.

tapi hanya ku lihat

Kini ia tinggal bersamaku. Sudah sebulan sejak kepergian ibunya, dan aku tetap tak bisa melihat wajah ceria. Berkali-kali aku mencoba menghibur dan ia hanya tersenyum tipis dipaksakan. Bahkan saat teman-temannya datang berkunjung, ia hanya sibuk menyiapkan kudapan untuk mereka, sesekali mengobrol dan kembali terdiam. Tak ada canda tawa layaknya perkumpulan teman. Usianya masih terlalu dini untuk merasakan perasaan yang begitu dalam. Hanya sendiri merasakannya, tak ada teman berbagi. Aku ingin berbagi rasa dengannya, namun tanpa banyak kata, ia selalu menolak berbagi rasa itu denganku. Kali ini aku melihatnya melamun, menatap ke luar jendela yang dihujani sinar matahari sore. Kosong, hanya tatapan kosong dengan sebuah buku catatan di pangkuannya. 

keresahanmu

Buku catatan itu berkata dalam tulisannya, "Ibu, aku takut. Aku takut menatap dunia ini sendirian. Tak ada yang bisa melindungiku sehebat engkau. Saat aku melihatmu kesakitan, kau tetap berusaha  menjagaku. Engkau mengirimku seorang ayah untuk menjagaku menggantikanmu, namun dia bukan engkau. Aku takut ia tidak lagi menyayangiku di kemudian hari seperti ia tidak lagi menyayangimu kala itu. Ibu, kapan keresahan ini akan berakhir?"


Jakarta, 28 Mei 2019
Untuk pembuat syair Di Antara Daun Gugur
dan bapak yang selalu berdiri di dekat sekolah setiap pagi.